The Joel Test : 12 Langkah Untuk Membuat Kode Yang Baik

The Joel Test, sambil me-ngeryitkan dahi saya baca ulang-ulang dengan hati-hati artikel lama ini. Hehe, dulu sempat bikin rame team developer kami tahun 2007, waktu itu para senior sedang heboh berdiskusi,  “Sebaiknya programming yang baik, untuk menghasilkan code yang baik  itu seperti apa?”.

Entahlah sepertinya artikel ini, menurut saya masih sangat relevan untuk tahun 2017 ini, meski artikel tersebut dibuat tahun 2000.

Mr. Joel intinya memberi 12 pertanyaan, yang jawabannya adalah “Yes” atau “No”. Score yang harus anda dapatkan adalah 12, jika 11 saja anda jawab “Ya”, berarti team software development anda masih ditolelir. Namun jika anda menjawab “Ya” minimal 10 soal atau dibawahnya, berarti anda punya masalah di organisasi software development anda.

12 Pertanyaan dari Mr. Joel adalah sebagai berikut :

  1. Do you use source control?
  2. Can you make a build in one step?
  3. Do you make daily builds?
  4. Do you have a bug database?
  5. Do you fix bugs before writing new code?
  6. Do you have an up-to-date schedule?
  7. Do you have a spec?
  8. Do programmers have quiet working conditions?
  9. Do you use the best tools money can buy?
  10. Do you have testers?
  11. Do new candidates write code during their interview?
  12. Do you do hallway usability testing?

 

Membuat perubahan memang sangat sulit, tetapi jika tidak mau berubah, ya tenggelam saja.

Saatnya #Berubah :)

4(Empat) Kriteria Manusia – Cak Nun

Pertama, orang yang tahu sedikit tentang sedikit hal. Kedua, orang yang tahu sedikit tentang banyak hal. Ketiga, orang yang tahu banyak tentang sedikit hal. Keempat, orang yang tahu banyak tentang banyak hal.
Dari keempat tipikal ini, setiap manusia perlu merefleksikan posisi dan makna hidupnya sendiri. Menurut Cak Nun, manusia tipe keempat memang menjadi tujuan utama, tapi sulit dilakukan. Yang mungkin dilakukan, yakni menjadi manusia tipe ketiga, yakni memiliki pengetahuan mendalam tentang sedikit hal.
#Semangat

Bekerja Benar Tidak Sekedar Bekerja

Bentuk-Tim-Kerja

Oleh Rene Suhardono

Bekerja benar tidak sekedar bekerja , tetapi dalam rangka berproses untuk memuncuklan karya.

Unjuk Karya bukan semata unjuk kerja, apalagi hanya unjuk rasa, Dan modalnya adalah 4 kartu AS dalam tumpukan kartu kehidupan, Yaitu :

Pertama, Kerja Iklas, bekerja bukan sekedar bertransaksi untuk memperoleh hasil , tetapi atas dasar mengambil peran menjadikan diri, orang lain , dan kehidupan jadi sedikit leboh baik.

Kedua, Kerja Tangkas, bekerja dengan sigap , tangkas dan cermat. Bukan sekedar bekerja mengerjakan hal yang sama sesuai intruksi, tetapi senantiasa mencari cara untuk menjadikan segala sesuatu libih cepat, tepat dan baik.

Ketiga, Kerja cerdas, Bekerja mengkombinasikan pemahaman taktis dan strategis. Bukan sekedar mengejar Output, tetapi juga impact bahkan makna.

Last but not the least, Kerja keras, Bekerja dengan mencurahkan seluruh kemampuan jiwa dan raga, tetapi tetap mengukur kemampuan tubuh,Kenapa ? karena dalam tubuh tetap punya hak atas segenap instrument dalam tubuh ini.

Jadi mana yang terbaik ?

Rupanya melalui diskusi tadi bukan hanya sekedar memilih salah satu, tetapi dengan memadukan keempatnya. Hanya dengan kombinasi kerja ikhlas, kerja tangkas, kerja cerdas dan kerja keras, dalam waktunya, akan mencapai tahap kepiawaian(mastery) dan pada saat yang sama hasil yang dimunculkan akan mengandung makna(meaning), itulah KARYA atau konsekuensi dan kerja benar.

Ada ilustrasi menarik tentang hal tersebut diatas : Apabila kita digaji 5 juta, tetapi berkarya seperti orang digaji 100 juta(demi keasyikan memunculkan karya), pemiliknya dan semesta akan membayar kelebihan berupa karir yang melejit, kesehatan prima, keluarga sejahtera dan keturunan yang cerdas.

Namun jika bergaji  5 juta, tetapi berkarya seperti orang digaji 1 Juta(tanpa niat dan keasyikan), walaupin pemilik tidak tahu atau tidak peduli, semesta dan penciptanya akan menuntut sisanya dengan penyakit, kesulitan, utang dan beragam masalah lain. Itulah hokum keseimbangan alam.

Jadi bekerjalah maksimal, padukan kepiawaian dan kebermaknaan agar karya senantiasa tercipta.Lalu ikhlaskan, yakinkan dengan semesta dan Sang Pencipta, selanjutnya perhatikan segala hal .

Orang biasa hanya mampu berkeluh kesah, Orang luarbiasa demi berkarya siap berpeluh basah!

Bila tak tahan lelahnya berkarya bersiaplah menghadapi perihnya ketidakberdayaan.

Dengan passion kita berdaya, berkarya dan bahagia.

Tanpa passion kita hanya akan mengalami ketiadaan dan ketidakberdayaan.

 

Jaman Wis Akhir

By Genk Kobra

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Akale Njungkir, Akale Njungkir, Pikirane Nglambrang.

Wolak-walike jaman sa’iki, Banyak Orang Gila, dianggap Kyai.
Semakin Gila, semakin menjadi Bertambah mini, katanya Seni.

Emang aneh, ulah manusia, banyak jalan terang, milih jalan sunyi Dunia Nyata, malah nggak peduli, malah  mikirin dunia Memedi.

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Jaman Wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Rasah dipikir, rasah dipikir sing penting Goyang

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Kakehan mikir, kakehan mikir, Kakehan Hutang!

Bangsa Indonesia itu Hebat, Ahli dalam Segala Bidang

Iya Bangsa Indonesia itu hebat, ahli dalam segala bidang. Ketika sedang musim perpolitikan, semua menjadi ahli politik. Ketika terjadi kecelakaan, semua menjadi ahli perhubungan dan lain sebagainya. Akan tetapi saat ditanya apa keahlian mereka, justru jawabannya hanya satu yang mereka tidak ahli, yaitu tidak ahli dalam bidangnya. - Ricky Elson

#‎AyoMondok‬ : Goblok kamu ya…

“Goblok kamu ya…,” kata suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi ke kamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali-kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu di arahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus, terus. Doni menangis “Ampun, ayah.. ampun ayah..,” katanya dengan suara terisak-isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik-adikmu. Mereka semua pintar-pintar di sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi beban adik adik kamu ya… heh,“ kata suamiku dengan suara terengah-engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di kursi. Matanya kosong memandang ke arah Doni dan kemudian melirik ke arahku, “kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat rapor sekolahnya buruk. Dengar itu.“ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk ke kamar tidur. Continue reading

Inspirasi Pagi, Mendidik Anak

Baru dishare WA artikel bagus dari istri. Semoga yang membuat dan share artikel inspirasi pagi ini mendapatkan keberkahan yang melimpah, Amin.

(Inspirasi Pagi )  Mendidik Anak

  1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologismanusia saat menangis, adalah menunduk. Continue reading

Memahami Isyarat Cinta ILAHI

Wahai anak muda! Waspadalah jika Allah melihat di dalam kalbumu ada selain Diri-Nya. Waspadalah bahwa Allah melihat di dalam kalbumu ada rasa takut kepada selain Diri-Nya, ada harapan kepada selain-Nya, dan ada kecintaan kepada selain kepada-Nya. Maka, hendaklah engkau berusaha membersihkan kalbumu dari selain Diri-Nya. Hendaklah engkau tidak memandang kemudaratan ataupun manfaat kecuali bahwa itu datang dari Allah. Engkau selalu dalam rumah-Nya dan menjadi tamu-Nya.
Wahai anak muda! Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kau lihat berupa wajah-wajah yang dipoles dan kau cintai adalah cinta yang semu, yang menyebabkanmu dikenai hukuman. Sebab, cinta yang benar dan tidak akan mengalami perubahan adalah cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Dialah yang seharusnya kau lihat dengan kedua mataharimu. Itulah cinta orang-orang Shiddiq yang dipenuhi limpahan keruhaniaan. Mereka tidak mencintai dengan keimanan, tetapi dengan keyakinan dan kesaksian. Hijab mereka tersingkap dari mataharimu sehingga engkau melihat perkara-perkara yang gaib. Engkau melihat apa yang tidak mungkin dapat mereka jelaskan!

–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani