Jaman Wis Akhir

By Genk Kobra

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Akale Njungkir, Akale Njungkir, Pikirane Nglambrang.

Wolak-walike jaman sa’iki, Banyak Orang Gila, dianggap Kyai.
Semakin Gila, semakin menjadi Bertambah mini, katanya Seni.

Emang aneh, ulah manusia, banyak jalan terang, milih jalan sunyi Dunia Nyata, malah nggak peduli, malah  mikirin dunia Memedi.

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang.
Jaman Wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Rasah dipikir, rasah dipikir sing penting Goyang

Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Jaman wis Akhir, Jaman Wis Akhir Bumine Goyang
Kakehan mikir, kakehan mikir, Kakehan Hutang!

Bangsa Indonesia itu Hebat, Ahli dalam Segala Bidang

Iya Bangsa Indonesia itu hebat, ahli dalam segala bidang. Ketika sedang musim perpolitikan, semua menjadi ahli politik. Ketika terjadi kecelakaan, semua menjadi ahli perhubungan dan lain sebagainya. Akan tetapi saat ditanya apa keahlian mereka, justru jawabannya hanya satu yang mereka tidak ahli, yaitu tidak ahli dalam bidangnya. - Ricky Elson

EJB 3 : JPA Datetime

JPA memungkinkan untuk melakukan generate table melalui code entity java. Type Attribute Datetime agar terdeteksi dengan baik di DBMS saat membuat Entity, berikut ini cara mendifinisakan menggunakan library java.util.Date :

@Temporal(TemporalType.DATE)
@Column(name = "DATE_FIELD")
private java.util.Date dateField;
    
@Temporal(TemporalType.TIME)
@Column(name = "TIME_FIELD")
private java.util.Date timeField;
    
@Temporal(TemporalType.TIMESTAMP)
@Column(name = "DATETIME_FIELD")
private java.util.Date dateTimeField;
    
@Temporal(TemporalType.TIMESTAMP)
@Column(name = "TIMESTAMP_FIELD")
private java.util.Date timestampField;

#‎AyoMondok‬ : Goblok kamu ya…

“Goblok kamu ya…,” kata suamiku sambil melemparkan buku rapor sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi ke kamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali-kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu di arahkan ke kaki, kemudian ke punggung dan terus, terus. Doni menangis “Ampun, ayah.. ampun ayah..,” katanya dengan suara terisak-isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doniku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.

“Lihat adik-adikmu. Mereka semua pintar-pintar di sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol. Mau jadi apa kamu nanti? Mau jadi beban adik adik kamu ya… heh,“ kata suamiku dengan suara terengah-engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk di kursi. Matanya kosong memandang ke arah Doni dan kemudian melirik ke arahku, “kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat rapor sekolahnya buruk. Dengar itu.“ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk ke kamar tidur. Continue reading